Sep 11, 2009 By: Nafsah Dulajis

Bicara alam pada diri... (republished)



Pada hijau pepohonan yang lembut dibuai angin, damai bisiknya menyapa telinga. Tentang teguh zikirnya siang dan malam bertasbih memuji Ilahi. Sedang kita tidak pernah mengerti pada puja dan puji yang dipersembahkannya.

Aduhai diri, tidak malukah engkau pada pohon yang tidak berakal itu? Tekun tasbihnya menjunjung kemuliaan Rabbi, sedang engkau kenal pada rasa lalai dan leka.

Kekal puja-pujinya meski pohon hijau itu melentok-lentok ditiup bayu. Tetap dalam ketaatan hingga akarnya tercabut dari bumi. Sedang dirimu begitu mudah dihanyut arus. Lalai dan lemah.

Pohon hijau, aku malu kepadamu!

Pada gunung yang menjadi pasak bumi dan meneguhi datarannya, sayu bicaranya penuh berbudi. Perihal hancur berkecai jua ia pada ayat Tuhannya. Padahal gagah dan besarnya ia bisa saja membaham manusia. Namun tetap gunung itu khusyuk dengan ayat Tuhannya, hancur lebur tanda tunduk dan patuh. Sedang dirimu yang kerdil berani pula berlagak sombong di tanah milik Tuhanmu. Tidak pernah sekalipun kegagahanmu melebihi gunung-gunung itu. Lantas mengapa hatimu lebih angkuh daripada gunung yang tunduk patuh itu?

Gunung yang gagah, aku malu kepadamu!

Burung-burung yang terbang bebas berkicauan tiada pula mengenal erti bebas dalam hidupnya. Tekun ia bertasbih memuji Tuhannya. Padahal ia bebas terbang ke sini dan ke sana, lebih pantas andai dibanding dengan si kerdil bernama manusia. Yang suka kepada kebebasan dan keriangan. Leka mengisi harinya dengan tawa gembira. Sedang ia belum pasti akan akhir hidupnya bagaimana. Mengapa gemar ia tertawa suka?

Burung yang bebas, aku malu kepadamu!

Pada langit yang terbentang luas membisikkan bicara pada kalbu bahawa ia diciptakan dalam dua masa. Tidak ada keretakan mahupun kecacatan padanya, malahan berhias ia dengan sempurna. Luas seluas-luasnya. Sedang ia dijunjung oleh malaikat pada penjuru-penjurunya. Terpasak teguh tiada bertiang. Mencurahkan air menghidupkan bumi yang gersang. Tetap ia datang kepada Tuhannya dengan senang hati tiada terpaksa.

Mengapa pula engkau manusia merasa bangga dan mulia, padahal langit itu sahajapun tidak mampu untuk kau tembusinya? Mengapa pula engkau berasa takbur dan gembira, sedangkan penciptaan langit biru itu lebih hebat dari dirimu?

Langit yang indah, aku malu kepadamu!

Pada matahari dan bulan yang berbicara akan ketekunannya berputar pada orbitnya. Taat tiada berubah pusingannya. Bertukar siang menjadi malam. Beralih malam menjadi siang kerana baktinya. Terang siang dibajai sang mentari, gelap malam dihiasi bulan menjadi pakaian insan. Sedang manusia sekadar tahu melalui hari-hari yang silih berganti, tanpa cuba mengerti kerana apakah gelap itu berubah terang dan terang itu beransur gelita? Andai saja matahari itu boleh mengadu, atau bulan itu bisa mencerca. Barangkali inilah lafaznya; “Manusia, sungguh kamu ini jahil dan zalim!”

Matahari dan bulan, aku malu kepadamu!

Akhirnya diri berbicara sendiri, mengapa aku dijadikan begini? Pada kerapian penciptaanku, pada kehebatan aturan diriku. Tidak perlu aku pergi terlalu jauh untuk memikirkan semua kebesaran-Nya itu. Pada diriku sendiri terbentang kemuliaan dan kebesaran Tuhanku. Mengapakah diri tidak mahu memikirkan pula?


“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (iaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari seksa neraka.”

(Ali-Imran;190-191)

Ya Allah, ampunkanlah kejahilan dan kezaliman kami...